Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

Jumat, 23 Maret 2012

ff oneshoot


Judul                     : Saranghae, jeongmal saranghae…. (one shoot)
Author                  : Tiara Park ^^
Cast                       : Cho Kyuhyun, Park Seorin/Tiara, Choi Minho
Genre                   : Romance
Rating                   : kagak tau.. XD
Cuap2                   : Ini adalah one shoot prtma author, *hihihi , mian ya kalau jelek, mohon
  dimaklumi. Please tinggalkan RCLnya, ntk prbaikan author di Ff2 
  slnjutnya. Don’t be silent reader! (emangnya ada yg mau baca?), n don’t copy
  my  inspiration !(emngnya ada yg mw ngopy?) ##hahaha, gak papa d, cekidot !
“Janji ?”
“Janji !”, akupun mengaitkan jari kelingkingku padanya, saling memandang sambil tersenyum satu sama lain, berjanji untuk tetap menjaga hati kami walau jarak memisahkan raga kami.
Ya, itu adalah janji terakhir yang kuingat saat aku akan pindah ke Seoul, Korsel, pada seorang yang sangat aku cintai, Rigel. Dia bukan pacarku, dia bukan siapa-siapaku. Hanya teman, teman yang spesial dengan komitmen ditengah-tengah kami. Namun, dengan bodohnya aku berani membuat janji itu padanya tanpa status apapun. Dan sekarang, aku sendirilah yang terjebak dalam janji itu. Hatiku tidak bisa menjaganya. Seseorang yang baru sekarang berdiri di sampingku, menggandeng tanganku, mengisi hari-hariku sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Salah satu orang spesial yang memanggilku dengan panggilan Tiara di Korea ini selain keluargaku, dengan logat yang sangat membuatku nyaman.
“Tiara-ya, apa kamu mau naik bianglala itu ?” tanya Kyuhyun membuyarkan lamunanku, sambil menunjuk ke salah satu permainan tinggi di taman bermain itu.
“Mmmm, joayo, kajja !” jawabku bersemangat lalu menariknya menuju arena bianglala. Kami membeli tiket, lalu masuk ke salah satu box bianglala, kemudian mengambil posisi duduk bersampingan. Kami melihat kota Seoul dari ketinggian, dengan sentuhan orangenya sore yang menambah keindahannya. Lalu mataku terpaku pada sebuah taman di tengah kota…
27 Oktober 2009…
“Aku lelah” gumamku pelan sambil berjalan pulang dari sekolah menuju rumah. Sore ini udaranya dingin sekali, musim gugur ini benar-benar menambah rasa kesepianku semenjak satu minggu lalu saat pertama kali aku menginjakkan kaki di negara industri ini, tepatnya di kota Seoul. Aku melewati taman kota yang ramai dikunjungi penduduk Seoul dalam berbagai kalangan. Sembari berjalan mataku terus memandang ke arah taman itu, memperhatikan setiap kebahagiaan yang terpancar dari sana. Sampai pada akhirnya kebahagiaan itu menarikku untuk ikut bergabung merasakannya. Aku berjalan pelan menyusuri taman itu lebih dalam, berharap menemukan sesuatu yang dapat mengobati kerinduanku pada Indonesia, terutama kerinduanku pada seseorang yang aku sayangi. Mengingatnya sedetik saja sudah membuat mataku berair dan membuat hatiku benar-benar lelah. Aku harus mencari tempat istirahat, tapi sepertinya semua bangku taman sudah dipenuhi pengunjung. “Nah, itu dia” celetukku tiba-tiba ketika mataku menangkap bangku taman yang hanya dihuni oleh seorang namja. Aku mendekati bangku itu, duduk di sudut bangku yang berbeda dengan namja tadi. Baru aku sadari bahwa namja itu memakai seragam yang sama dengan seragam sekolahku, dengan kanvas di pangkuannya dan kuas ditangannya, sepertinya dia sedang serius melukis keindahan taman. Tapi, aku tidak pernah melihat orang ini sebelumnya di sekolah, apa dia kakak kelasku di sekolah ?
“Waeyo ?” tanyanya tiba-tiba, menyadari bahwa dirinya sedang aku perhatikan. Dia menoleh ke arahku, sesaat pandangan kami bertemu. Aku merasa waktu terhenti untuk beberapa detik. Aku akui matanya indah sekali, namun tersirat kesedihan di dalamnya, mungkin sama dengan yang dipancarkan mataku sekarang ini, mungkin.
“Mm aniya,.. sepertinya kita satu sekolah, apa kita pernah bertemu ?” tanyaku padanya. Aku merasa sekarang giliran dia yang memperhatikanku.
“Kamu anak baru ?” tanyanya lagi.
“Ne, perkenalkan, Seorin imnida, Park Seorin, atau nama Indonesiaku Tiara.” Jawabku sambil menyodorkan tanganku. Untuk beberapa saat dia masih terdiam memandangku.
“Kyuhyun imnida, Cho Kyuhyun. Aku sunbaemu, tapi jangan panggil aku sunbae.” Ucapnya menyambut tanganku. Lalu dia melanjutkan aktivitas melukisnya tadi.
“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu ?” tanyaku. “Oppa ! ne, oppa saja. Geurom ! oppa lagi ngelukis apa ?” tanyaku lagi, “waa ngelukis taman ya, bagus sekali !” gumamku sambil mencondongkan sedikit kepalaku ke arah lukisannya. Lalu aku melihat tangannya berhenti bergerak, dan perlahan tubuhnya semakin menunduk dengan sedikit bergetar. Dia tertawa, kenapa dia tertawa ? Aneh sekali. “Kyuhyun oppa, kamu menertawaiku ? Waeyo ? apa ada yang lucu, apa aku aneh ?” tanyaku heran, “Aku tahu logat bahasa koreaku memang aneh, aku kan orang Indonesia. Tapi bukan berarti aku suka ditertawakan.”
“Hahaha…” tiba-tiba dia mengangkat tubuhnya dengan tawa yang semakin keras. Aku menggeser sedikit tubuhku menjauh darinya. “Kamu lucu sekali” lanjutnya “Dari tadi membuat beberapa pertanyaan dan menjawabnya sendiri, hahaha perutku sakit, hahaha”
“A...” untuk beberapa saat aku berpikir. “hehehe, mianhae, tadi aku hanya terlalu bersemangat menemukan teman baru lagi, jadi lepas kontrol. Mian, hehe” jawabku cengengesan menahan malu. Tapi sayangnya sunbae satu ini tidak kurun meredakan tawanya. Alhasil aku hanya terdiam menunggunya berhenti tertawa.
“Bagaimana kalau aku memanggilmu dengan nama Indonesiamu, Ti-a-ra. Oteokke ? apa logatku aneh, hah ? Jdi kamu tidak perlu merasa malu lagi, karena sekarang kamu memiliki teman yang juga berlogat aneh. Oteokke Ti-a-ra ?” celetuknya tiba-tiba saat tawanya mereda. Aku tertegun. Dia mengeja nama Indonesiaku dengan benar, hanya iramanya saja yang berbeda. Tapi aku nyaman dengan caranya memanggilku. Satu-satunya orang korea yang memanggilku dengan nama Tiara, walaupun masih terbata-bata, namun memiliki ciri yang spesial bagiku.
“Ne, Kyuhyun oppa”
26 Oktober 2011…
“Tiara-ya, kenapa kamu melamun ?” Tanya Kyuhyun lagi-lagi membuyarkan lamunanku. “Lihat ! tamannya terlihat lagi.” Ucapnya menunjuk ke arah taman kota. Kepalakupun tertarik untuk mengikuti arah telunjuk pucat itu.
“Ne,” jawabku. Sepertinya aku sudah melamun cukup lama, sampai-sampai bianglala ini berputar untuk yang kedua kalinya menunjukkan taman itu. Entah mengapa hari ini aku banyak mengingat hal-hal di masa lalu. Membuat hatiku lagi-lagi lelah. Padahal aku ingin menikmati kencan weekend rutin kami ini. Melepas semua penat selama satu minggu sekolah.
“Tiara-ya, saranghae” ucap Kyuhyun tiba-tiba ditelingaku sambil menggenggam tanganku, lalu meletakkan kepalanya di bahuku. Entah mengapa aku terkejut, padahal sangat sudah biasa ia mengucapkan hal itu padaku.
“Nado saranghae” jawabku, lalu juga menyandarkan kepalaku di kepalanya. Hampir 2 tahun saat pertama kalinya aku bertemu dengannya, di musim gugur yang dingin, namun terasa hangat dengan kehadirannya seperti saat ini. Huh, lagi-lagi aku mengingat masa lalu. “Kyuhyun-ah, apa kamu sering mengingat pertemuan pertama kita di taman tadi ?” tanyaku, masih merasakan kehangatannya. Entah mengapa ia tidak menjawab. “Kyuhyun-ah” panggilku sekali lagi. Masih tidak ada jawaban. Aku mengangkat kepalaku, melihat ke arah wajahnya. Tiba-tiba aku merasa jantungku berhenti berdetak, aku terpaku melihat darah segar yang mengalir dari hidung Kyuhyun. Dan sekarang, jantungku kembali berdetak, namun lebih cepat dari biasanya. Dengan panik aku meraih ponsel ditas kecilku, menghubungi rumah sakit, lalu menghubungi keluarganya. Saat bianglala turun kebawah, dengan sedikit berteriak aku meminta bantuan pada orang-orang untuk mengangkat tubuh kyuhyun, membawanya keluar menunggu mobil rumah sakit datang.
***
27 Oktober 2011
“Seorin, Seorin-ah, ireonna”
“Mmmm, ne” akupun terbangun, mengucek mataku sebentar untuk dapat melihat lebih jelas siapa yang telah membangunkanku tadi. “Eh, eomma annyeong” sapaku pada ibu kyuhyun yang juga aku panggil eomma.
“Seorin, lebih baik kamu pulang dulu, biar eomma yang menjaga kyuhyun. Sudah dari kemarin kamu dirumah sakit ini, nanti kamu dimarahi orangtuamu. Biar bapak yang mengantarmu, sambil bapak mau ke bandara jemput saudara dari Indonesia. Gimana ?”
“Ah, ani, gwaenchana, saya sudah minta izin dengan orang tua saya. Tidak apa-apa, tenang saja eomma.”
“kamu yakin tidak apa-apa ?”
“Ne, lebih baik eomma ikut bapak saja jemput saudara yang sudah datang jauh-jauh dari Indonesia. Kebetulan, saya juga sudah lama tidak bertemu dengan orang Indonesia selain keluarga, jadi saya ingin sekali berkenalan dengan keluarga eomma. Bolehkah ?”
“arasseo, kalau begitu kamu tunggu di sini dulu ya, eomma mau jemput saudara dulu, jadi eomma minta tolong jaga anak eomma baik-baik, ya.” Ucap ibu Kyuhyun sambil mengusap kepalaku.
“Ne eomma, hati-hati”, jawabku, lalu memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu. Aku menarik nafas dalam-dalam, terdiam sebentar, lalu menoleh ke arah tubuh namja muda yang sedang terbaring kaku di atas tempat tidurnya. “cepat sembuh, chagi” bisikku padanya, lalu melekatkan tangannya diwajahku. Tangannya hangat, bahkan dalam keadaannya yang seperti inipun dia masih saja dapat menghangatkan hatiku. Lama aku terduduk disamping tempat tidurnya, memandanginya, menggenggam tangannya. Sebenarnya penyakit apa yang dideritanya sampai membuat ia tak sadarkan diri selama ini. Aku khawatir, sangat khawatir.
***
“ Seorin-ah, oteokke ? apa ada tanda-tanda ia akan sadar ?” Tanya ibu kyuhyun tiba-tiba mengejutkanku saat masih berada di ambang pintu hendak menghampiri anaknya, disusul oleh suaminya, bersama wanita dan laki-laki separuh baya. Aku tidak kenal mereka, namun sudah tidak asing lagi dengan wajah mereka. Ya, sepertinya inilah orang-orang Indonesia itu.
“eomma ? cepat sekali ? sepertinya tidak, tidak ada tanda apa-apa.” Jawabku kemudian, aku melihat raut putus asa di wajahnya. “oh iya, halo apa kabar, senang bertemu dengan anda” sapaku dengan bahasa Indonesia pada tamu tadi.
“oh, hai orang Indonesia ya ? temannya Kyuhyun ?” Tanya ibu separuh baya tadi.
“ mm, ya”
“eonni, Minho mana ?” Tanya ibu Kyuhyun tiba-tiba pada ibu tadi.
“sebentar lagi kesini, tadi dia angkat telpon dulu di depan sebentar.”
“eomma, saya keluar dulu sebentar, ingin cari udara segar” ucapku tiba-tiba. Sebenarnya aku hanya merasa tidak enak menjadi orang asing yang mendengar pembicaraan pribadi sebuah keluarga. Jadi aku memutuskan untuk keluar.
“ arasseo, tapi jangan lama-lama ya,.. eomma yakin kyuhyun ingin melihat wajah yeojachingunya saat ia sadar nanti.”
“mm, geurae” akupun keluar dengan langkah gontai. Tubuhku terasa lemas. Wajar saja, aku tidak makan dari kemarin sore. Tiba-tiba aku merasa menabrak seseorang, kepalaku pusing hingga aku hanya mengucapkan kata maaf tanpa melihat ke arah orang yang kutabrak tadi. Aku yakin penampilanku sekarang pasti sangat urak-urakan hingga kujadikan salah satu alasan mengapa aku tidak berani menatap orang lain.
“Tiara” panggil seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi kudengar. Seketika jantungku terasa berhenti berdetak. Aku takut menoleh ke arah sumber suara itu. Sumber suara yang ada di depanku sekarang, dan pastinya dari orang yang kutabrak tadi. Aku takut perkiraanku benar, bahwa itu adalah suara seseorang yang pernah aku cintai dulu. Aku takut harapanku terlalu besar untuk melihatnya berdiri di depanku sekarang. Namun entah ilusi atau khayalanku saja, sekarang aku benar-benar melihatnya. Dia berdiri di depanku ,dengan ekspresi yang tidak dapat digambarkan. Ya Tuhan, apakah ini mimpi ? jika mimpi, bangunkanlah aku segera, aku tidak mau terlalu larut dengan masa laluku. Sekarang aku benar-benar berhadapan dengannya, Rigel. Kami terdiam cukup lama. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan kukatakan padanya setelah aku memutuskan untuk tidak pernah berhubungan lagi dengannya. “Igel”  gumamku akhirnya. Lagi-lagi kami terdiam.
“Minho-ya” terdengar suara wanita dari belakangku. Aku menoleh, dan ternyata itu eomma kyuhyun. “kalian sudah kenalan ?” tanyanya dengan ekspresi yang kebingungan melihat kami berdua.
“Minho ?” tanyaku heran.
“iya, itu nama koreaku” sambung Rigel lagi.
“oh, jadi kamu saudara kyuhyun oppa ? dan kamu mengerti bahasa korea?”
“mmm”angguk rigel secukupnya.
“kenapa kamu tidak pernah cerita padaku ?”
“jadi, kalian sudah lama kenal ?” sambung ibu kyuhyun lagi. “baiklah kalau begitu, lebih baik kalian berdua masuk dulu, berbincang di dalam saja. Kajja” ajak ibu kyuhyun.
“nanti kami nyusul tante, ada yang ingin saya bicarakan dengan Tiara dulu.”
“oh, geurom, silahkan, tante masuk dulu ya”
“ne,” ucap kami serempak. Aku menoleh ke arahnya, dan mendapatinya sedang memperhatikanku. Aku mematung, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku bicarakan.
“aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Hingga sekarang akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Apa kamu tidak merindukanku, hah ?” dia mendekat, aku menundukkan kepalaku. “aku berani bersumpah bahwa aku berhasil menjaga janjiku dulu sampai bertemu denganmu lagi. Bagaimana denganmu ?” tanyanya, yang semakin membuatku tidak berani berkata apapun. Hatiku benar-benar panik sekarang. Aku bingung menjelaskannya, aku takut menyakitinya. Aku memegang dadaku, rasanya sesak, dan kurasakan air mataku sudah mengalir deras.
“maaf, maafkan aku, dia dengan mudahnya mencuri  perhatianku, dan aku terlalu larut dengan kebahagiaan yang ditawarkannya padaku. Hingga hatiku melepas janji yang pernah kita ucapkan dulu. Aku benar-benar minta maaf, aku tahu aku jahat. Maafkan aku” sekarang, air mataku benar-benar sudah tidak terkendali lagi. Dengan terbata-bata aku meraih bangku tunggu di sampingku, menumpahkan semua emosi di sana. Minho masih berdiri, terpaku di tempatnya, menunduk,dan tidak ada yang tahu apa yang sedang di pikirkannya.
“apa aku sudah benar-benar terlambat ?” Tanya Minho kemudian, masih dalam posisi semula.
Aku berusaha menenangkan diri. Berpikir jawaban apa yang tepat aku lontarkan padanya. “aku tidak tahu. Sepertinya dia sudah mengambil semua tempat di hatiku.” Jawabku sambil menghapus air mataku. “sekali lagi maafkan aku. Aku terima kalau kamu membenciku. Aku tahu, aku pantas menerimanya.” Lanjutku dengan nada yang lebih tenang sekarang. Aku lihat dia juga sepertinya sudah bisa menguasai kembali dirinya. Dia mendekatiku, duduk di sampingku.
“apa kamu pikir aku bisa dengan mudahnya membenci gadis yang telah aku cintai selama bertahun-tahun ?” tanyanya, sepertinya tidak butuh jawaban dariku. Kami berdua kembali terdiam. “apa keberadaanmu disini sekarang sebagai gadis yang spesial bagi sepupuku ?” lagi-lagi pertanyaannya membuatku terdiam seribu bahasa. “sejak kapan ?” tanyanya lagi seperti sudah mengetahui jawabannya.
“hari ini, tepat 2 tahun pertama kali aku bertemu dengannya dan tepat 2 tahun sejak ia mulai mengisi hari-hariku.” Jawabku tanpa ekspresi. Untuk berapa lama suasana di sekitar kami menjadi sepi. Sampai pada akhirnya suara langkah kaki larian seseorang keluar dari ruangan kyuhyun. Serentak aku dan minho menoleh. Kusadari itu ayah kyuhyun, dengan wajah panik, terus berlari hingga menghilang di belokan rumah sakit. Aku bingung, ada apa ? tidak berapa lama ayahnya kembali dengan seorang dokter yang juga berlari. Seketika akupun ikut panik. Tanpa pikir panjang akupun langsung ikut masuk ke ruang kyuhyun. Aku lihat semua orang mundur, memberi ruang untuk dokter memeriksanya. Tiba-tiba dokter itu memberi isyarat pada kami semua untuk keluar, disusul suster yang baru masuk dengan berbagai peralatan. Kami semuapun menunggu di luar, mataku menangkap bayang ibu kyuhyun yang sudah berlinang air mata didampingi suaminya. Akupun menghampirinya, memeluknya, saling berusaha menenangkan diri. Hingga akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya,“ sebenarnya apa yang terjadi pada kyuhyun oppa eomma ?”
Beliau menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, “kyuhyun menderita leukemia, stadium akhir.” Aku terhenyak mendengarnya. Aku terdiam. Apa benar ? mengapa aku tidak pernah mengetahuinya ? selama ini aku mengira ia sehat-sehat saja. Aku hanya melihat keceriaan yang selalu dibagikannya padaku. Dan aku menikmatinya, di atas kesakitannya. Apa aku benar-benar gadis paling jahat di dunia ini ? aku bingung, berbagai pertanyaan terlintas di kepalaku hingga membuat kepalaku pusing. Kakiku benar-benar lemas sekarang. Namun aku merasa ada seseorang yang menahanku dari belakang. Aku lihat Minho berdiri disana, tersenyum seakan memberi harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu kudengar pintu ruang kyuhyun dirawat terbuka, seorang dokter keluar dari sana, berbicara pada ayah kyuhyun. “ayo semuanya, masuk” ajak ayahnya yang segera masuk lebih dulu. Kulihat ibunya berlari menghambur ke dalam. Akupun mengikutinya. Aku mengambil posisi disamping tempat tidur kyuhyun, di sisi yang berlawanan dengan orang tuanya. Kulihat ibunya membisikkan sesuatu di telinganya yang pucat, dan ayahnya berusaha menenangkan. Sekarang giliranku yang diberi kesempatan mengucapkan sesuatu padanya. Sungguh, aku tidak suka melakukan hal ini. Seakan-akan aku disuruh memberikan salam perpisahan pada orang yang sangat aku sayangi di dunia ini. Namun apa boleh buat, sekarang semua mata melihat ke arahku, menunggu apa yang akan kuucapkan padanya. Aku membungkukkan sedikit badanku, mendekatkan wajahku ke telinganya. “saranghae, jeongmal saranghae” ucapku pelan di telinganya, menahan air mata yang sepertinya akan jatuh. Seketika bunyi datar dari alat itu serasa membekukan seluruh tubuhku. Aku tertegun, mataku melekat pada wajah kyuhyun yang meneteskan sedikit air mata dari matanya. Aku tidak percaya ini. Aku yakin alat itu rusak, atau mengalami kesalahan lainnya. Namun, suara tangisan ibunya dan saudara-saudaranya mematahkan harapanku. Aku terdiam, air mataku dengan sendirinya membanjiri wajahku, aku seakan kehilangan seluruh tenagaku. Aku ingin tidur, berharap saat bangun nanti ini semua hanyalah mimpi.
***
Aku terbangun, cahaya matahari menyelinap masuk dari jendela kamarku. Hal pertama yang menarik perhatianku setiap pagi adalah sebuah foto di bingkai biru di meja samping tempat tidurku. Foto diriku, bersama orang yang sangat aku cintai, yang telah pergi untuk selama-lamanya 1 minggu yang lalu. Di sampingnya tergeletak kumpulan lukisan yang menggambarkan diriku dalam berbagai ekspresi.  Kyuhyun yang melukisnya. Kata ibunya, itu adalah hal yang selalu dilakukannya setiap pulang sekolah, yaitu melukis sebuah wajah gadis yang sama sebagai pengganti lukisan taman yang dilukisnya setiap hari sebelum bertemu denganku. Sepertinya dia sudah jatuh cinta padaku pada pertemuan pertama waktu itu. Lagi-lagi hatiku sesak setiap kali mengingatnya. Namun aku harus melakukannya, karena aku takut melupakannya. “annyeong chagi” sapaku pada foto itu. Hari ini Minho dan keluarganya akan kembali ke Indonesia. Aku janji akan mengantarnya ke bandara, sebagai ucapan terima kasihku karena ia telah menolongku saat aku pingsan 1 minggu yang lalu sepeninggalannya kyuhyun.
***
“aku pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik” kata Minho padaku ketika pesawatnya hendak berangkat.
“mm, ne” jawabku, “apa kamu tidak marah lagi padaku ?” tanyaku lagi.
“sudah kubilang kan ? aku tidak akan pernah bisa marah padamu, sekalipun hatiku sakit. Mungkin aku hanya butuh waktu saja untuk menerima semuanya.” Ucapnya bijaksana.
“maaf, kuharap kita masih bisa berteman baik. Jangan pernah lupakan aku disana ya.”
“entahlah, aku tidak janji. Aku takut saat aku berusaha selalu mengingatmu, malah kamu sendiri yang melupakanku.” Ledeknya.
“aiiish, tidak akan. Aku janji tidak akan pernah melupakanmu. Kali ini, aku benar-benar akan belajar menepati janji.”
“mm, baiklah. Aku percaya. Saat kita bertemu lagi, aku pastikan kamu masih mengingatku dengan baik.”
“ya, pasti. Daaaaa, hati-hati ya” ucapku melambaikan tangan padanya yang sudah berjalan menjauh. Aku menarik nafas dalam-dalam, seakan melegakan hatiku atas segala tekanan beberapa hari yang lalu. Aku merasa mulai saat ini, aku benar-benar harus belajar menepati janji. Aku akan belajar menjaga hatiku hanya untuk orang yang aku cintai, kyuhyun. Aku tidak pernah menyangka dia akan pergi meninggalkanku secepat ini, dan tidak pernah terpikirkan olehku hari itu adalah hari terakhir ia menyatakan cintanya padaku, di bianglala itu. Di musim gugur ini, saat pertama kali aku melihat mata indahnya, dan di musim gugur ini pula, saat terakhir kali aku melihat wajahnya, tepat tahun ke-2 aku mengenalnya. Aku tidak tahu apakah nanti hati ini masih ada sisa tempat untuk menerima orang lain. Yang ku tahu sekarang, hatiku hanya ingin menyimpan dan mengingat semua kenangan dengan kyuhyun. Yang kutahu sekarang, hatiku masih dimiliki sepenuhnya oleh namja evil itu, dan dia tidak menyisakan sedikitpun sisa tempat untuk orang lain.
THE END