Judul : Saranghae, jeongmal saranghae…. (one shoot)
Author : Tiara
Park ^^
Cast : Cho
Kyuhyun, Park Seorin/Tiara, Choi Minho
Genre : Romance
Rating : kagak
tau.. XD
Cuap2 : Ini
adalah one shoot prtma author, *hihihi , mian ya kalau jelek, mohon
dimaklumi. Please
tinggalkan RCLnya, ntk prbaikan author di Ff2
slnjutnya.
Don’t be silent reader! (emangnya ada yg mau baca?), n don’t copy
my inspiration !(emngnya ada yg mw ngopy?)
##hahaha, gak papa d, cekidot !
“Janji ?”
“Janji !”, akupun mengaitkan jari
kelingkingku padanya, saling memandang sambil tersenyum satu sama lain, berjanji
untuk tetap menjaga hati kami walau jarak memisahkan raga kami.
Ya, itu adalah janji terakhir yang kuingat saat aku akan pindah ke
Seoul, Korsel, pada seorang yang sangat aku cintai, Rigel. Dia bukan pacarku,
dia bukan siapa-siapaku. Hanya teman, teman yang spesial dengan komitmen
ditengah-tengah kami. Namun, dengan bodohnya aku berani membuat janji itu
padanya tanpa status apapun. Dan sekarang, aku sendirilah yang terjebak dalam
janji itu. Hatiku tidak bisa menjaganya. Seseorang yang baru sekarang berdiri
di sampingku, menggandeng tanganku, mengisi hari-hariku sejak kurang lebih 2
tahun yang lalu. Salah satu orang spesial yang memanggilku dengan panggilan
Tiara di Korea ini selain keluargaku, dengan logat yang sangat membuatku
nyaman.
“Tiara-ya, apa kamu mau naik bianglala itu ?” tanya Kyuhyun membuyarkan
lamunanku, sambil menunjuk ke salah satu permainan tinggi di taman bermain itu.
“Mmmm, joayo, kajja !” jawabku bersemangat lalu menariknya menuju arena
bianglala. Kami membeli tiket, lalu masuk ke salah satu box bianglala, kemudian
mengambil posisi duduk bersampingan. Kami melihat kota Seoul dari ketinggian,
dengan sentuhan orangenya sore yang menambah keindahannya. Lalu mataku terpaku
pada sebuah taman di tengah kota…
27 Oktober 2009…
“Aku lelah” gumamku pelan sambil berjalan pulang dari sekolah menuju
rumah. Sore ini udaranya dingin sekali, musim gugur ini benar-benar menambah
rasa kesepianku semenjak satu minggu lalu saat pertama kali aku menginjakkan
kaki di negara industri ini, tepatnya di kota Seoul. Aku melewati taman kota
yang ramai dikunjungi penduduk Seoul dalam berbagai kalangan. Sembari berjalan
mataku terus memandang ke arah taman itu, memperhatikan setiap kebahagiaan yang
terpancar dari sana. Sampai pada akhirnya kebahagiaan itu menarikku untuk ikut
bergabung merasakannya. Aku berjalan pelan menyusuri taman itu lebih dalam,
berharap menemukan sesuatu yang dapat mengobati kerinduanku pada Indonesia,
terutama kerinduanku pada seseorang yang aku sayangi. Mengingatnya sedetik saja
sudah membuat mataku berair dan membuat hatiku benar-benar lelah. Aku harus
mencari tempat istirahat, tapi sepertinya semua bangku taman sudah dipenuhi
pengunjung. “Nah, itu dia” celetukku tiba-tiba ketika mataku menangkap bangku
taman yang hanya dihuni oleh seorang namja. Aku mendekati bangku itu, duduk di
sudut bangku yang berbeda dengan namja tadi. Baru aku sadari bahwa namja itu
memakai seragam yang sama dengan seragam sekolahku, dengan kanvas di
pangkuannya dan kuas ditangannya, sepertinya dia sedang serius melukis
keindahan taman. Tapi, aku tidak pernah melihat orang ini sebelumnya di
sekolah, apa dia kakak kelasku di sekolah ?
“Waeyo ?” tanyanya tiba-tiba, menyadari bahwa dirinya sedang aku
perhatikan. Dia menoleh ke arahku, sesaat pandangan kami bertemu. Aku merasa
waktu terhenti untuk beberapa detik. Aku akui matanya indah sekali, namun
tersirat kesedihan di dalamnya, mungkin sama dengan yang dipancarkan mataku
sekarang ini, mungkin.
“Mm aniya,.. sepertinya kita satu sekolah, apa kita pernah bertemu ?”
tanyaku padanya. Aku merasa sekarang giliran dia yang memperhatikanku.
“Kamu anak baru ?” tanyanya lagi.
“Ne, perkenalkan, Seorin imnida, Park Seorin, atau nama Indonesiaku
Tiara.” Jawabku sambil menyodorkan tanganku. Untuk beberapa saat dia masih
terdiam memandangku.
“Kyuhyun imnida, Cho Kyuhyun. Aku sunbaemu, tapi jangan panggil aku
sunbae.” Ucapnya menyambut tanganku. Lalu dia melanjutkan aktivitas melukisnya
tadi.
“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu ?” tanyaku. “Oppa ! ne, oppa
saja. Geurom ! oppa lagi ngelukis apa ?” tanyaku lagi, “waa ngelukis taman ya,
bagus sekali !” gumamku sambil mencondongkan sedikit kepalaku ke arah
lukisannya. Lalu aku melihat tangannya berhenti bergerak, dan perlahan tubuhnya
semakin menunduk dengan sedikit bergetar. Dia tertawa, kenapa dia tertawa ?
Aneh sekali. “Kyuhyun oppa, kamu menertawaiku ? Waeyo ? apa ada yang lucu, apa
aku aneh ?” tanyaku heran, “Aku tahu logat bahasa koreaku memang aneh, aku kan
orang Indonesia. Tapi bukan berarti aku suka ditertawakan.”
“Hahaha…” tiba-tiba dia mengangkat tubuhnya dengan tawa yang semakin
keras. Aku menggeser sedikit tubuhku menjauh darinya. “Kamu lucu sekali”
lanjutnya “Dari tadi membuat beberapa pertanyaan dan menjawabnya sendiri,
hahaha perutku sakit, hahaha”
“A...” untuk beberapa saat aku berpikir. “hehehe, mianhae, tadi aku
hanya terlalu bersemangat menemukan teman baru lagi, jadi lepas kontrol. Mian,
hehe” jawabku cengengesan menahan malu. Tapi sayangnya sunbae satu ini tidak
kurun meredakan tawanya. Alhasil aku hanya terdiam menunggunya berhenti tertawa.
“Bagaimana kalau aku memanggilmu dengan nama Indonesiamu, Ti-a-ra.
Oteokke ? apa logatku aneh, hah ? Jdi kamu tidak perlu merasa malu lagi, karena
sekarang kamu memiliki teman yang juga berlogat aneh. Oteokke Ti-a-ra ?”
celetuknya tiba-tiba saat tawanya mereda. Aku tertegun. Dia mengeja nama
Indonesiaku dengan benar, hanya iramanya saja yang berbeda. Tapi aku nyaman
dengan caranya memanggilku. Satu-satunya orang korea yang memanggilku dengan
nama Tiara, walaupun masih terbata-bata, namun memiliki ciri yang spesial
bagiku.
“Ne, Kyuhyun oppa”
26 Oktober 2011…
“Tiara-ya, kenapa kamu melamun ?” Tanya Kyuhyun lagi-lagi membuyarkan lamunanku.
“Lihat ! tamannya terlihat lagi.” Ucapnya menunjuk ke arah taman kota.
Kepalakupun tertarik untuk mengikuti arah telunjuk pucat itu.
“Ne,” jawabku. Sepertinya aku sudah melamun cukup lama, sampai-sampai
bianglala ini berputar untuk yang kedua kalinya menunjukkan taman itu. Entah
mengapa hari ini aku banyak mengingat hal-hal di masa lalu. Membuat hatiku
lagi-lagi lelah. Padahal aku ingin menikmati kencan weekend rutin kami ini.
Melepas semua penat selama satu minggu sekolah.
“Tiara-ya, saranghae” ucap Kyuhyun tiba-tiba ditelingaku sambil
menggenggam tanganku, lalu meletakkan kepalanya di bahuku. Entah mengapa aku
terkejut, padahal sangat sudah biasa ia mengucapkan hal itu padaku.
“Nado saranghae” jawabku, lalu juga menyandarkan kepalaku di kepalanya.
Hampir 2 tahun saat pertama kalinya aku bertemu dengannya, di musim gugur yang
dingin, namun terasa hangat dengan kehadirannya seperti saat ini. Huh,
lagi-lagi aku mengingat masa lalu. “Kyuhyun-ah, apa kamu sering mengingat
pertemuan pertama kita di taman tadi ?” tanyaku, masih merasakan kehangatannya.
Entah mengapa ia tidak menjawab. “Kyuhyun-ah” panggilku sekali lagi. Masih
tidak ada jawaban. Aku mengangkat kepalaku, melihat ke arah wajahnya. Tiba-tiba
aku merasa jantungku berhenti berdetak, aku terpaku melihat darah segar yang
mengalir dari hidung Kyuhyun. Dan sekarang, jantungku kembali berdetak, namun
lebih cepat dari biasanya. Dengan panik aku meraih ponsel ditas kecilku,
menghubungi rumah sakit, lalu menghubungi keluarganya. Saat bianglala turun kebawah,
dengan sedikit berteriak aku meminta bantuan pada orang-orang untuk mengangkat
tubuh kyuhyun, membawanya keluar menunggu mobil rumah sakit datang.
***
27 Oktober 2011
“Seorin, Seorin-ah, ireonna”
“Mmmm, ne” akupun terbangun, mengucek mataku sebentar untuk dapat
melihat lebih jelas siapa yang telah membangunkanku tadi. “Eh, eomma annyeong”
sapaku pada ibu kyuhyun yang juga aku panggil eomma.
“Seorin, lebih baik kamu pulang dulu, biar eomma yang menjaga kyuhyun.
Sudah dari kemarin kamu dirumah sakit ini, nanti kamu dimarahi orangtuamu. Biar
bapak yang mengantarmu, sambil bapak mau ke bandara jemput saudara dari
Indonesia. Gimana ?”
“Ah, ani, gwaenchana, saya sudah minta izin dengan orang tua saya.
Tidak apa-apa, tenang saja eomma.”
“kamu yakin tidak apa-apa ?”
“Ne, lebih baik eomma ikut bapak saja jemput saudara yang sudah datang
jauh-jauh dari Indonesia. Kebetulan, saya juga sudah lama tidak bertemu dengan
orang Indonesia selain keluarga, jadi saya ingin sekali berkenalan dengan keluarga
eomma. Bolehkah ?”
“arasseo, kalau begitu kamu tunggu di sini dulu ya, eomma mau jemput
saudara dulu, jadi eomma minta tolong jaga anak eomma baik-baik, ya.” Ucap ibu
Kyuhyun sambil mengusap kepalaku.
“Ne eomma, hati-hati”, jawabku, lalu memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu. Aku menarik nafas dalam-dalam, terdiam sebentar,
lalu menoleh ke arah tubuh namja muda yang sedang terbaring kaku di atas tempat tidurnya. “cepat sembuh, chagi”
bisikku padanya, lalu melekatkan tangannya diwajahku. Tangannya hangat, bahkan
dalam keadaannya yang seperti inipun dia masih saja dapat menghangatkan hatiku.
Lama aku terduduk disamping tempat tidurnya, memandanginya, menggenggam
tangannya. Sebenarnya penyakit apa yang dideritanya sampai membuat ia tak sadarkan
diri selama ini. Aku khawatir, sangat khawatir.
***
“ Seorin-ah, oteokke ? apa ada tanda-tanda ia akan sadar ?” Tanya ibu
kyuhyun tiba-tiba mengejutkanku saat masih berada di ambang pintu hendak
menghampiri anaknya, disusul oleh suaminya, bersama wanita dan laki-laki
separuh baya. Aku tidak kenal mereka, namun sudah tidak asing lagi dengan wajah
mereka. Ya, sepertinya inilah orang-orang Indonesia itu.
“eomma ? cepat sekali ? sepertinya tidak, tidak ada tanda apa-apa.”
Jawabku kemudian, aku melihat raut putus asa di wajahnya. “oh iya, halo apa
kabar, senang bertemu dengan anda” sapaku dengan bahasa Indonesia pada tamu
tadi.
“oh, hai orang Indonesia ya ? temannya Kyuhyun ?” Tanya ibu separuh
baya tadi.
“ mm, ya”
“eonni, Minho mana ?” Tanya ibu Kyuhyun tiba-tiba pada ibu tadi.
“sebentar lagi kesini, tadi dia angkat telpon dulu di depan sebentar.”
“eomma, saya keluar dulu sebentar, ingin cari udara segar” ucapku
tiba-tiba. Sebenarnya aku hanya merasa tidak enak menjadi orang asing yang
mendengar pembicaraan pribadi sebuah keluarga. Jadi aku memutuskan untuk
keluar.
“ arasseo, tapi jangan lama-lama ya,.. eomma yakin kyuhyun ingin
melihat wajah yeojachingunya saat ia sadar nanti.”
“mm, geurae” akupun keluar dengan langkah gontai. Tubuhku terasa lemas.
Wajar saja, aku tidak makan dari kemarin sore. Tiba-tiba aku merasa menabrak
seseorang, kepalaku pusing hingga aku hanya mengucapkan kata maaf tanpa melihat
ke arah orang yang kutabrak tadi. Aku yakin penampilanku sekarang pasti sangat
urak-urakan hingga kujadikan salah satu alasan mengapa aku tidak berani menatap
orang lain.
“Tiara” panggil seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi
kudengar. Seketika jantungku terasa berhenti berdetak. Aku takut menoleh ke
arah sumber suara itu. Sumber suara yang ada di depanku sekarang, dan pastinya
dari orang yang kutabrak tadi. Aku takut perkiraanku benar, bahwa itu adalah
suara seseorang yang pernah aku cintai dulu. Aku takut harapanku terlalu besar
untuk melihatnya berdiri di depanku sekarang. Namun entah ilusi atau khayalanku
saja, sekarang aku benar-benar melihatnya. Dia berdiri di depanku ,dengan
ekspresi yang tidak dapat digambarkan. Ya Tuhan, apakah ini mimpi ? jika mimpi,
bangunkanlah aku segera, aku tidak mau terlalu larut dengan masa laluku.
Sekarang aku benar-benar berhadapan dengannya, Rigel. Kami terdiam cukup lama.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan kukatakan padanya setelah aku
memutuskan untuk tidak pernah berhubungan lagi dengannya. “Igel” gumamku akhirnya. Lagi-lagi kami terdiam.
“Minho-ya” terdengar suara wanita dari belakangku. Aku menoleh, dan
ternyata itu eomma kyuhyun. “kalian sudah kenalan ?” tanyanya dengan ekspresi
yang kebingungan melihat kami berdua.
“Minho ?” tanyaku heran.
“iya, itu nama koreaku” sambung Rigel lagi.
“oh, jadi kamu saudara kyuhyun oppa ? dan kamu mengerti bahasa korea?”
“mmm”angguk rigel secukupnya.
“kenapa kamu tidak pernah cerita padaku ?”
“jadi, kalian sudah lama kenal ?” sambung ibu kyuhyun lagi. “baiklah
kalau begitu, lebih baik kalian berdua masuk dulu, berbincang di dalam saja.
Kajja” ajak ibu kyuhyun.
“nanti kami nyusul tante, ada yang ingin saya bicarakan dengan Tiara
dulu.”
“oh, geurom, silahkan, tante masuk dulu ya”
“ne,” ucap kami serempak. Aku menoleh ke arahnya, dan mendapatinya
sedang memperhatikanku. Aku mematung, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus
aku bicarakan.
“aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Hingga sekarang akhirnya aku
bisa bertemu denganmu lagi. Apa kamu tidak merindukanku, hah ?” dia mendekat,
aku menundukkan kepalaku. “aku berani bersumpah bahwa aku berhasil menjaga
janjiku dulu sampai bertemu denganmu lagi. Bagaimana denganmu ?” tanyanya, yang
semakin membuatku tidak berani berkata apapun. Hatiku benar-benar panik
sekarang. Aku bingung menjelaskannya, aku takut menyakitinya. Aku memegang dadaku,
rasanya sesak, dan kurasakan air mataku sudah mengalir deras.
“maaf, maafkan aku, dia dengan mudahnya mencuri perhatianku, dan aku terlalu larut dengan
kebahagiaan yang ditawarkannya padaku. Hingga hatiku melepas janji yang pernah
kita ucapkan dulu. Aku benar-benar minta maaf, aku tahu aku jahat. Maafkan aku”
sekarang, air mataku benar-benar sudah tidak terkendali lagi. Dengan
terbata-bata aku meraih bangku tunggu di sampingku, menumpahkan semua emosi di
sana. Minho masih berdiri, terpaku di tempatnya, menunduk,dan tidak ada yang
tahu apa yang sedang di pikirkannya.
“apa aku sudah benar-benar terlambat ?” Tanya Minho kemudian, masih
dalam posisi semula.
Aku berusaha menenangkan diri. Berpikir jawaban apa yang tepat aku
lontarkan padanya. “aku tidak tahu. Sepertinya dia sudah mengambil semua tempat
di hatiku.” Jawabku sambil menghapus air mataku. “sekali lagi maafkan aku. Aku
terima kalau kamu membenciku. Aku tahu, aku pantas menerimanya.” Lanjutku
dengan nada yang lebih tenang sekarang. Aku lihat dia juga sepertinya sudah
bisa menguasai kembali dirinya. Dia mendekatiku, duduk di sampingku.
“apa kamu pikir aku bisa dengan mudahnya membenci gadis yang telah aku
cintai selama bertahun-tahun ?” tanyanya, sepertinya tidak butuh jawaban
dariku. Kami berdua kembali terdiam. “apa keberadaanmu disini sekarang sebagai
gadis yang spesial bagi sepupuku ?” lagi-lagi pertanyaannya membuatku terdiam
seribu bahasa. “sejak kapan ?” tanyanya lagi seperti sudah mengetahui
jawabannya.
“hari ini, tepat 2 tahun pertama kali aku bertemu dengannya dan tepat 2
tahun sejak ia mulai mengisi hari-hariku.” Jawabku tanpa ekspresi. Untuk berapa
lama suasana di sekitar kami menjadi sepi. Sampai pada akhirnya suara langkah
kaki larian seseorang keluar dari ruangan kyuhyun. Serentak aku dan minho
menoleh. Kusadari itu ayah kyuhyun, dengan wajah panik, terus berlari hingga
menghilang di belokan rumah sakit. Aku bingung, ada apa ? tidak berapa lama
ayahnya kembali dengan seorang dokter yang juga berlari. Seketika akupun ikut
panik. Tanpa pikir panjang akupun langsung ikut masuk ke ruang kyuhyun. Aku
lihat semua orang mundur, memberi ruang untuk dokter memeriksanya. Tiba-tiba
dokter itu memberi isyarat pada kami semua untuk keluar, disusul suster yang
baru masuk dengan berbagai peralatan. Kami semuapun menunggu di luar, mataku
menangkap bayang ibu kyuhyun yang sudah berlinang air mata didampingi suaminya.
Akupun menghampirinya, memeluknya, saling berusaha menenangkan diri. Hingga
akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya,“ sebenarnya apa yang terjadi pada
kyuhyun oppa eomma ?”
Beliau menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, “kyuhyun menderita
leukemia, stadium akhir.” Aku terhenyak mendengarnya. Aku terdiam. Apa benar ?
mengapa aku tidak pernah mengetahuinya ? selama ini aku mengira ia sehat-sehat
saja. Aku hanya melihat keceriaan yang selalu dibagikannya padaku. Dan aku
menikmatinya, di atas kesakitannya. Apa aku benar-benar gadis paling jahat di
dunia ini ? aku bingung, berbagai pertanyaan terlintas di kepalaku hingga
membuat kepalaku pusing. Kakiku benar-benar lemas sekarang. Namun aku merasa
ada seseorang yang menahanku dari belakang. Aku lihat Minho berdiri disana,
tersenyum seakan memberi harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu
kudengar pintu ruang kyuhyun dirawat terbuka, seorang dokter keluar dari sana,
berbicara pada ayah kyuhyun. “ayo semuanya, masuk” ajak ayahnya yang segera
masuk lebih dulu. Kulihat ibunya berlari menghambur ke dalam. Akupun
mengikutinya. Aku mengambil posisi disamping tempat tidur kyuhyun, di sisi yang
berlawanan dengan orang tuanya. Kulihat ibunya membisikkan sesuatu di
telinganya yang pucat, dan ayahnya berusaha menenangkan. Sekarang giliranku
yang diberi kesempatan mengucapkan sesuatu padanya. Sungguh, aku tidak suka
melakukan hal ini. Seakan-akan aku disuruh memberikan salam perpisahan pada
orang yang sangat aku sayangi di dunia ini. Namun apa boleh buat, sekarang
semua mata melihat ke arahku, menunggu apa yang akan kuucapkan padanya. Aku
membungkukkan sedikit badanku, mendekatkan wajahku ke telinganya. “saranghae,
jeongmal saranghae” ucapku pelan di telinganya, menahan air mata yang
sepertinya akan jatuh. Seketika bunyi datar dari alat itu serasa membekukan
seluruh tubuhku. Aku tertegun, mataku melekat pada wajah kyuhyun yang
meneteskan sedikit air mata dari matanya. Aku tidak percaya ini. Aku yakin alat
itu rusak, atau mengalami kesalahan lainnya. Namun, suara tangisan ibunya dan
saudara-saudaranya mematahkan harapanku. Aku terdiam, air mataku dengan
sendirinya membanjiri wajahku, aku seakan kehilangan seluruh tenagaku. Aku
ingin tidur, berharap saat bangun nanti ini semua hanyalah mimpi.
***
Aku terbangun, cahaya matahari menyelinap masuk dari jendela kamarku.
Hal pertama yang menarik perhatianku setiap pagi adalah sebuah foto di bingkai
biru di meja samping tempat tidurku. Foto diriku, bersama orang yang sangat aku
cintai, yang telah pergi untuk selama-lamanya 1 minggu yang lalu. Di sampingnya
tergeletak kumpulan lukisan yang menggambarkan diriku dalam berbagai
ekspresi. Kyuhyun yang melukisnya. Kata
ibunya, itu adalah hal yang selalu dilakukannya setiap pulang sekolah, yaitu
melukis sebuah wajah gadis yang sama sebagai pengganti lukisan taman yang
dilukisnya setiap hari sebelum bertemu denganku. Sepertinya dia sudah jatuh
cinta padaku pada pertemuan pertama waktu itu. Lagi-lagi hatiku sesak setiap
kali mengingatnya. Namun aku harus melakukannya, karena aku takut melupakannya.
“annyeong chagi” sapaku pada foto itu. Hari ini Minho dan keluarganya akan
kembali ke Indonesia. Aku janji akan mengantarnya ke bandara, sebagai ucapan
terima kasihku karena ia telah menolongku saat aku pingsan 1 minggu yang lalu sepeninggalannya
kyuhyun.
***
“aku pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik” kata Minho padaku ketika
pesawatnya hendak berangkat.
“mm, ne” jawabku, “apa kamu tidak marah lagi padaku ?” tanyaku lagi.
“sudah kubilang kan ? aku tidak akan pernah bisa marah padamu,
sekalipun hatiku sakit. Mungkin aku hanya butuh waktu saja untuk menerima
semuanya.” Ucapnya bijaksana.
“maaf, kuharap kita masih bisa berteman baik. Jangan pernah lupakan aku
disana ya.”
“entahlah, aku tidak janji. Aku takut saat aku berusaha selalu
mengingatmu, malah kamu sendiri yang melupakanku.” Ledeknya.
“aiiish, tidak akan. Aku janji tidak akan pernah melupakanmu. Kali ini,
aku benar-benar akan belajar menepati janji.”
“mm, baiklah. Aku percaya. Saat kita bertemu lagi, aku pastikan kamu
masih mengingatku dengan baik.”
“ya, pasti. Daaaaa, hati-hati ya” ucapku melambaikan tangan padanya
yang sudah berjalan menjauh. Aku menarik nafas dalam-dalam, seakan melegakan
hatiku atas segala tekanan beberapa hari yang lalu. Aku merasa mulai saat ini,
aku benar-benar harus belajar menepati janji. Aku akan belajar menjaga hatiku
hanya untuk orang yang aku cintai, kyuhyun. Aku tidak pernah menyangka dia akan
pergi meninggalkanku secepat ini, dan tidak pernah terpikirkan olehku hari itu
adalah hari terakhir ia menyatakan cintanya padaku, di bianglala itu. Di musim
gugur ini, saat pertama kali aku melihat mata indahnya, dan di musim gugur ini
pula, saat terakhir kali aku melihat wajahnya, tepat tahun ke-2 aku
mengenalnya. Aku tidak tahu apakah nanti hati ini masih ada sisa tempat untuk
menerima orang lain. Yang ku tahu sekarang, hatiku hanya ingin menyimpan dan
mengingat semua kenangan dengan kyuhyun. Yang kutahu sekarang, hatiku masih
dimiliki sepenuhnya oleh namja evil itu, dan dia tidak menyisakan sedikitpun
sisa tempat untuk orang lain.
THE END
