Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

Sabtu, 07 April 2012

KRISIS JATI DIRI BANGSA INDONESIA



Bicara tentang budaya dan nilai-nilai luhur bangsa ini memang tidak akan pernah ada habisnya. Mengapa? Tentu saja, karena negara kita memiliki beragam budaya dan nilai-nilai luhur yang sangat dapat dan butuh dikembangkan serta diperkenalkan ke dunia luar. Namun juga memiliki beragam permasalahan yang berkecamuk didalamnya yang sangat butuh penyelesaian.
           Hanya saja, untuk mencari anak-anak bangsa yang mau membicarakan tentang hal ini di masa sekarang sangatlah sulit, bahkan minim sekali. Padahal, mengembangkan dan memperkenalkan budaya kita ke dunia luar adalah tugas para generasi muda bangsa. Apalagi negara kita sekarang pasti sangat membutuhkan generasi-generasi yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah krisis jati diri bangsa yang semakin merajalela.
           Lalu, apa itu krisis jati diri bangsa ? Baiklah, untuk menjelaskannya mari kita perhatikan kembali budaya dan nilai-nilai luhur bangsa kita dari yang terdahulu sampai yang telah terpengaruh oleh arus modernisasi dunia.
           Bangsa kita merupakan bangsa yang memiliki berbagai nilai-nilai luhur yang tercantum dalam ideologi negara kita yaitu Pancasila. Nilai-nilai utamanya yaitu terdiri dari nilai Ketuhanan, nilai Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Jika dijabarkan lagi satu persatu, akan didapatkan betapa banyaknya nilai-nilai luhur yang hidup dalam negara kita selama ini. Nilai-nilai itulah yang membedakan gaya hidup bangsa kita dengan bangsa lainnya. Indonesia penuh dengan kepercayaan, kebersamaan, kesopanan, keramahtamahan, toleransi, dan lain sebagainya. Itulah yang menjadi jati diri bangsa Indonesia dimata bangsa lain.
           Pertama yaitu nilai Ketuhanan. Indonesia terkenal sebagai negara Islam, namun sebenarnya memiliki warga negara dengan berbagai agama dan kepercayaan. Setiap warga bertanggung jawab dalam melaksanakan ibadah agamanya masing-masing. Walaupun berbeda-beda warga Indonesia bisa saling menghargai dan menghormati kepercayaan satu sama lainnya.
           Setiap agama pasti memiliki aturan-aturan hidup yang pasti. Apalagi Indonesia yang bermayoritas Islam. Islam merupakan agama yang memiliki aturan hidup yang sangat terperinci dan pasti, namun sebenarnya sangatlah fleksibel. Mulai dari aturan berpakaian, bergaul, berdagang, berpolitik, bersikap dan lainnya segalanya terangkum dalam satu hukum Islam. Warga Indonesia yang bermayoritas Islam pastinya dominan bergaya Islam yang terkenal santun, sopan dan tertutup.
           Dulu, hal itu memang sempat terjadi dan berlaku dalam kehidupan warga negara kita. Namun itu dulu, sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di lapangan sekarang. Warga kita khususnya anak-anak bangsa cenderung lebih memilih pakaian yang kekurangan bahan yang sebenarnya mereka lebih terlihat seperti orang-orang miskin yang tak mampu membeli pakaian layak. Bahkan sekarang dalam hal bergaul, tak segan-segannya pria dan wanita saling mendaratkan pipinya satu sama lain. Katanya sih “gaul gitu loh !”. Tapi apa untungnya ?
           Tanpa disadari hal-hal seperti itulah sebenarnya yang telah mendatangkan berbagai kejahatan tak bermoral yang terjadi selama ini. Perkosaan, penculikan, pemerasan, hamil diluar nikah dan lain sebagainya. Dulu, kejahatan seperti itu sangatlah langka sekali. Tapi mengapa sekarang seakan telah menjadi suatu hal yang wajar ?
           Sekarang mari kita lihat dalam dunia politik Indonesia. Bukankah mencuri itu haram dalam hukum Islam dan siapa yang melakukannya harus dipotong tangan? Tapi mengapa korupsi marak tumbuh seperti jamur dimusim hujan ? Padahal, Indonesia bermayoritas Islam termasuk para pemerintahnya. Kemungkinan besar agama lainpun sangat melarang pencurian. Korupsi berarti mengambil uang negara, uang rakyat, uang orang lain secara diam-diam yang berarti sama dengan mencuri. Tapi seakan-akan pemerintah kita tidak memiliki agama sehingga tidak ada aturan untuk melarang pencurian.
Bukan hanya pemerintah, bahkan rakyat biasapun juga banyak yang mencuri terbukti dari berita-berita pencurian yang terdengar. Dan pencurian-pencurian itu dominan pelakunya adalah para anak-anak yang kekurangan uang jajan untuk membeli hal-hal yang tak berguna seperti rokok dan ganja. Dari beberapa kasus korupsi yang terjadi, seharusnya anak-anak bangsa dapat mengambil pelajaran, dan berusaha memperbaiki serta memberantas korupsi di negara ini yang telah berada diperingkat atas dunia. Namun bukannya memperbaiki, anak-anak lebih memilih untuk mencontoh serta meneruskan perbuatan haram tersebut. Sungguh, Indonesia hampir hancur karena rakyat dan anak-anaknya yang kehilangan nilai-nilai Ketuhanan yang sangat dijunjung di zaman nenek moyang dahulu.
Nilai Pancasila yang kedua yaitu Kemanusiaan. Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keramah-tamahannya. Namun sekarang dikalahkan dengan ketenaran mengenai terorisnya. Para teroris membunuh beratus-ratus orang tanpa manusiawi dengan mengatas namakan Islam. Padahal Islam bahkan agama apapun pasti sangat melarang yang namanya pembunuhan. Bahkan sebagian dari teroris itu adalah anak sekolahan yang masih membutuhkan banyak pengetahuan. Memang, pikiran anak-anak Indonesia semakin pintar oleh ilmu dunia yang semakin berkembang. Namun mereka tidak dapat mengendalikan pengetahuan besar yang mereka terima. Begitulah globalisasi, bahkan ilmu modern yang seharusnya sangat berguna untuk dunia, dapat membuat anak-anak Indonesia melupakan nilai Kemanusiaan yang dapat menghancurkan negara bahkan dunia.
Loe loe, gue gue”, begitulah prinsip anak bangsa kita sekarang yang terkesan sangat individualis. Apakah individualis juga termasuk salah satu dari nilai luhur bangsa ini ? Padahal, sangat jelas tercantum dalam sila ke-3 yaitu nilai Persatuan. Dulu, dengan nilai persatuan tersebut, para pahlawan dan rakyat mempertaruhkan nyawanya untuk bangsa ini. Tapi sekarang dimana anak-anak bangsa yang berjiwa nasionalisme untuk menghargai perjuangan para pahlawan. Berbagai perkelahian antar kelompok terjadi dimana-mana. Apalagi tawuran antar kelompok pelajar yang mempermasalahkan hal yang sebenarnya dapat diselesaikan secara damai. Kemana persatuan yang diperjuangkan selama ini ? Perjuangan pahlawan sungguh dibuang dengan percuma.
“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat/kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Apa anak-anak bangsa ini masih ingat dengan bunyi sila ke-4 tersebut ? Saya ragu, karena faktanya disekitar saya masih ada murid yang tidak hafal dengan Ideologi negara sendiri yaitu Pancasila. Hal yang perlu dilihat di sila tersebut adalah Permusyawaratan. Sungguh minim sekali permusyawaratan di negara ini untuk zaman sekarang. Penyelesaian suatu masalah lebih banyak diselesaikan dengan berbagai bentuk kekerasan. Baik itu masalah negara, keluarga, bahkan pertemanan sekalipun. Banyak anak-anak yang berkelahi saling memukul hanya karena urusan pacar bahkan ada yang sampai membunuh. Pemerintah dan rakyatpun seringkali melanggar sila tersebut. Pemerintah memutuskan peraturan baru tanpa menghiraukan pendapat rakyat. Oleh karena tidak dihiraukan, rakyat melakukan aksi demo dengan berbagai tindak kekerasan. Demo seperti itu hampir setiap hari terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dan lagi-lagi kegiatan itu juga diikuti oleh para kaum pelajar.
Sila yang terakhir yaitu sila ke-5 yang menyatakan tentang keadilan seluruh warga. Tapi sejauh yang saya lihat, keadilan semakin jauh dari bangsa kita sekarang. Orang yang korupsi hukumannya sama dengan orang yang hanya mencuri ayam warga. Penyebabnya adalah karena orang yang korupsi tersebut adalah orang serakah yang berkedudukan tinggi atau orang yang memiliki uang banyak untuk membeli hukum. Sedangkan orang yang mencuri ayam hanyalah orang kampung yang sedang membutuhkan uang untuk makan keluarganya. Lalu dimana keadilan yang dibangga-banggakan selama ini ?
Tanpa kita sadari semua hal yang saya jabarkan tadi sebenarnya adalah pengaruh dari globalisasi. Sedangkan ilmu globalisasi Indonesia dominan dipengaruhi oleh dunia dari sebelah barat, sehingga masuklah berbagai budaya barat ke Indonesia. Gaya hidup negara barat penuh dengan kebebasan karena merupakan negara berpemerintahan liberal. Mereka bebas berpendapat apapun, mereka bebas bersikap bagaimanapun, bahkan mereka berhak mengata-ngatai pemimpin negara seperti apapun. Kebebasan seperti itu pasti tidaklah cocok dengan nilai-nilai luhur Indonesia yang dibatasi oleh nilai-nilai Ketuhanan dan kepercayaan.
 Dengan makin besarnya pengaruh dunia barat di Indonesia, membuat rakyat Indonesia khususnya pemeran dunia modern utama yaitu anak-anak Indonesia melupakan nilai-nilai luhur sebenarnya dari bangsa ini. Tanpa adanya anak-anak bangsa yang menerapkan nilai-nilai luhur asli bangsa, budaya bangsa juga tidak akan dapat dikembangkan ke dunia luar. Dan kita tahu bahwa budayalah yang menjadi jati diri bangsa Indonesia selama ini, karena Indonesia memiliki beragam budaya yang cukup unik dan cukup dikenal di negara lain. Lalu, apa jadinya negara ini jika budaya-budayapun ikut menghilang. Dengan apalagi negara lain mengenal negara Indonesia jika tidak dengan budayanya.
Untuk anak-anak bangsa Indonesia, mari kita perkecil kesalahan dengan mengabaikan pengaruh globalisasi yang negatif. Kita tidak harus mengikuti apapun perkembangan dunia yang dirasa dapat merugikan kita. Apa kita mau negara ini kembali dijajah oleh bangsa lain karena merupakan negara yang tidak memiliki wibawa ? Karena tidak memiliki wibawa, dengan beraninya negara lain seperti Malaysia mengambil budaya milik negara kita. Jika tidak, marilah kita kembalikan wibawa negara kita di mata dunia. Kita kembalikan jati diri bangsa kita. Kita terapkan kembali nilai-nilai luhur yang dapat melestarikan budaya bangsa. Sebagai anak-anak bangsa yang belum memiliki pengaruh besar terhadap negara, kita dapat memperbaiki mulai dari hal terkecil sekalipun. Kita dapat belajar menumbuhkan kembali rasa nasionalisme dengan belajar yang giat agar kelak dapat berguna untuk pembangunan negara lebih baik. Kita juga dapat menerapkan nilai-nilai luhur dalam perilaku kita sehari-hari seperti kemanusiaan dan sopan santun. Kita dekatkan diri kepada Tuhan agar ilmu yang kita peroleh dapat digunakan secara terkendali untuk hal-hal yang berguna. Dengan memiliki disiplin ilmu, niscaya kita sebagai anak-anak generasi muda bangsa dapat memperbaiki dan mengembalikan jati diri bangsa yang sempat hilang. Mulailah memperbaiki dari diri kita sendiri, jika diri kita sudah baik maka kita dapat memberi pengaruh baik tersebut kepada orang lain, bangsa dan dunia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar