Bicara tentang budaya dan nilai-nilai luhur bangsa ini
memang tidak akan pernah ada habisnya. Mengapa? Tentu saja, karena negara kita memiliki beragam budaya dan nilai-nilai luhur yang sangat dapat dan
butuh dikembangkan serta diperkenalkan ke dunia luar. Namun juga memiliki beragam permasalahan yang berkecamuk didalamnya yang sangat
butuh penyelesaian.
Hanya
saja, untuk mencari anak-anak bangsa yang mau membicarakan tentang hal ini di
masa sekarang sangatlah sulit, bahkan minim sekali. Padahal, mengembangkan dan
memperkenalkan budaya kita ke dunia luar adalah tugas para generasi muda
bangsa. Apalagi negara kita sekarang pasti sangat membutuhkan generasi-generasi yang bertanggung jawab
untuk menyelesaikan masalah krisis jati diri bangsa
yang semakin merajalela.
Lalu,
apa itu krisis jati diri bangsa ? Baiklah, untuk menjelaskannya mari kita perhatikan
kembali budaya dan nilai-nilai luhur bangsa kita
dari yang terdahulu sampai yang telah terpengaruh oleh arus modernisasi dunia.
Bangsa kita merupakan bangsa yang
memiliki berbagai nilai-nilai luhur yang tercantum dalam ideologi negara kita
yaitu Pancasila. Nilai-nilai utamanya yaitu terdiri dari nilai Ketuhanan, nilai
Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Jika dijabarkan lagi satu
persatu, akan didapatkan betapa banyaknya nilai-nilai luhur yang hidup dalam
negara kita selama ini. Nilai-nilai itulah yang membedakan gaya hidup bangsa
kita dengan bangsa lainnya. Indonesia penuh dengan kepercayaan, kebersamaan,
kesopanan, keramahtamahan, toleransi, dan lain sebagainya. Itulah yang menjadi
jati diri bangsa Indonesia dimata bangsa lain.
Pertama yaitu nilai Ketuhanan.
Indonesia terkenal sebagai negara Islam, namun sebenarnya memiliki warga negara
dengan berbagai agama dan kepercayaan. Setiap warga bertanggung jawab dalam
melaksanakan ibadah agamanya masing-masing. Walaupun berbeda-beda warga
Indonesia bisa saling menghargai dan menghormati kepercayaan satu sama lainnya.
Setiap agama pasti memiliki
aturan-aturan hidup yang pasti. Apalagi Indonesia yang bermayoritas Islam.
Islam merupakan agama yang memiliki aturan hidup yang sangat terperinci dan
pasti, namun sebenarnya sangatlah
fleksibel. Mulai dari aturan berpakaian, bergaul, berdagang, berpolitik,
bersikap dan lainnya segalanya terangkum dalam satu hukum Islam. Warga
Indonesia yang bermayoritas Islam pastinya
dominan bergaya Islam yang terkenal santun, sopan dan tertutup.
Dulu,
hal itu memang sempat terjadi dan berlaku dalam kehidupan warga negara kita.
Namun itu dulu, sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di lapangan
sekarang. Warga kita khususnya anak-anak bangsa cenderung lebih memilih pakaian
yang kekurangan bahan yang sebenarnya mereka lebih terlihat seperti orang-orang
miskin yang tak mampu membeli pakaian layak. Bahkan sekarang dalam hal bergaul,
tak segan-segannya pria dan wanita saling mendaratkan pipinya satu sama lain.
Katanya sih “gaul gitu loh !”. Tapi
apa untungnya ?
Tanpa
disadari hal-hal seperti itulah sebenarnya yang telah mendatangkan berbagai
kejahatan tak bermoral yang terjadi selama ini. Perkosaan, penculikan,
pemerasan, hamil diluar nikah dan lain sebagainya. Dulu, kejahatan seperti itu
sangatlah langka sekali. Tapi mengapa sekarang seakan telah menjadi suatu hal
yang wajar ?
Sekarang
mari kita lihat dalam dunia politik Indonesia. Bukankah mencuri itu haram dalam
hukum Islam dan siapa yang melakukannya harus dipotong tangan? Tapi mengapa
korupsi marak tumbuh seperti jamur dimusim hujan ? Padahal, Indonesia
bermayoritas Islam termasuk para pemerintahnya. Kemungkinan besar agama lainpun
sangat melarang pencurian. Korupsi berarti mengambil uang negara, uang rakyat,
uang orang lain secara diam-diam yang berarti sama dengan mencuri. Tapi seakan-akan
pemerintah kita tidak memiliki agama sehingga tidak ada aturan untuk melarang
pencurian.
Bukan hanya pemerintah, bahkan rakyat biasapun juga
banyak yang mencuri terbukti dari berita-berita pencurian yang terdengar. Dan
pencurian-pencurian itu dominan pelakunya adalah para anak-anak yang kekurangan
uang jajan untuk membeli hal-hal yang tak berguna seperti rokok dan ganja. Dari
beberapa kasus korupsi yang terjadi, seharusnya anak-anak bangsa dapat
mengambil pelajaran, dan berusaha memperbaiki serta memberantas korupsi di
negara ini yang telah berada diperingkat atas dunia. Namun bukannya
memperbaiki, anak-anak lebih memilih untuk mencontoh serta meneruskan perbuatan
haram tersebut. Sungguh, Indonesia hampir hancur karena rakyat dan anak-anaknya
yang kehilangan nilai-nilai Ketuhanan yang sangat dijunjung di zaman nenek
moyang dahulu.
Nilai Pancasila yang kedua yaitu Kemanusiaan.
Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keramah-tamahannya. Namun
sekarang dikalahkan dengan ketenaran mengenai terorisnya. Para teroris membunuh
beratus-ratus orang tanpa manusiawi dengan mengatas namakan Islam. Padahal
Islam bahkan agama apapun pasti sangat melarang yang namanya pembunuhan. Bahkan
sebagian dari teroris itu adalah anak sekolahan yang masih membutuhkan banyak pengetahuan.
Memang, pikiran anak-anak Indonesia semakin pintar oleh ilmu dunia yang semakin
berkembang. Namun mereka tidak dapat mengendalikan pengetahuan besar yang
mereka terima. Begitulah globalisasi, bahkan ilmu modern yang seharusnya sangat
berguna untuk dunia, dapat membuat anak-anak Indonesia melupakan nilai
Kemanusiaan yang dapat menghancurkan negara bahkan dunia.
“Loe loe, gue gue”, begitulah prinsip
anak bangsa kita sekarang yang terkesan sangat individualis. Apakah individualis juga
termasuk salah satu dari nilai luhur bangsa ini ? Padahal, sangat jelas tercantum dalam sila ke-3 yaitu nilai Persatuan.
Dulu, dengan nilai persatuan tersebut, para pahlawan dan rakyat mempertaruhkan
nyawanya untuk bangsa ini. Tapi sekarang dimana anak-anak bangsa yang berjiwa
nasionalisme untuk menghargai perjuangan para pahlawan. Berbagai perkelahian
antar kelompok terjadi dimana-mana. Apalagi tawuran antar kelompok pelajar yang
mempermasalahkan hal yang sebenarnya dapat diselesaikan secara damai. Kemana
persatuan yang diperjuangkan selama ini ? Perjuangan pahlawan sungguh dibuang
dengan percuma.
“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat/kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan”. Apa anak-anak bangsa ini masih ingat dengan
bunyi sila ke-4 tersebut ? Saya ragu, karena faktanya disekitar saya masih ada
murid yang tidak hafal dengan Ideologi negara sendiri yaitu Pancasila. Hal yang
perlu dilihat di sila tersebut adalah Permusyawaratan. Sungguh minim sekali
permusyawaratan di negara ini untuk zaman sekarang. Penyelesaian suatu masalah
lebih banyak diselesaikan dengan berbagai bentuk kekerasan. Baik itu masalah
negara, keluarga, bahkan pertemanan sekalipun. Banyak anak-anak yang berkelahi
saling memukul hanya karena urusan pacar bahkan ada yang sampai membunuh. Pemerintah
dan rakyatpun seringkali melanggar sila tersebut. Pemerintah memutuskan
peraturan baru tanpa menghiraukan pendapat rakyat. Oleh karena tidak
dihiraukan, rakyat melakukan aksi demo dengan berbagai tindak kekerasan. Demo
seperti itu hampir setiap hari terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dan
lagi-lagi kegiatan itu juga diikuti oleh para kaum pelajar.
Sila yang terakhir yaitu sila ke-5 yang menyatakan
tentang keadilan seluruh warga. Tapi sejauh yang saya lihat, keadilan semakin
jauh dari bangsa kita sekarang. Orang yang korupsi hukumannya sama dengan orang
yang hanya mencuri ayam warga. Penyebabnya adalah karena orang yang korupsi
tersebut adalah orang serakah yang berkedudukan tinggi atau orang yang memiliki
uang banyak untuk membeli hukum. Sedangkan orang yang mencuri ayam hanyalah
orang kampung yang sedang membutuhkan uang untuk makan keluarganya. Lalu dimana
keadilan yang dibangga-banggakan selama ini ?
Tanpa kita sadari semua hal yang saya jabarkan tadi
sebenarnya adalah pengaruh dari globalisasi. Sedangkan ilmu globalisasi
Indonesia dominan dipengaruhi oleh dunia dari sebelah barat, sehingga masuklah
berbagai budaya barat ke Indonesia. Gaya hidup negara barat penuh dengan
kebebasan karena merupakan negara berpemerintahan liberal. Mereka bebas berpendapat
apapun, mereka bebas bersikap bagaimanapun, bahkan mereka berhak mengata-ngatai
pemimpin negara seperti apapun. Kebebasan seperti itu pasti tidaklah cocok
dengan nilai-nilai luhur Indonesia yang dibatasi oleh nilai-nilai Ketuhanan dan
kepercayaan.
Dengan makin
besarnya pengaruh dunia barat di Indonesia, membuat rakyat Indonesia khususnya
pemeran dunia modern utama yaitu anak-anak Indonesia melupakan nilai-nilai
luhur sebenarnya dari bangsa ini. Tanpa adanya anak-anak bangsa yang menerapkan
nilai-nilai luhur asli bangsa, budaya bangsa juga tidak akan dapat dikembangkan
ke dunia luar. Dan kita tahu bahwa budayalah yang menjadi jati diri bangsa
Indonesia selama ini, karena Indonesia memiliki beragam budaya yang cukup unik
dan cukup dikenal di negara lain. Lalu, apa jadinya negara ini jika
budaya-budayapun ikut menghilang. Dengan apalagi negara lain mengenal negara
Indonesia jika tidak dengan budayanya.
Untuk anak-anak bangsa Indonesia, mari kita perkecil
kesalahan dengan mengabaikan pengaruh globalisasi yang negatif. Kita tidak
harus mengikuti apapun perkembangan dunia yang dirasa dapat merugikan kita. Apa
kita mau negara ini kembali dijajah oleh bangsa lain karena merupakan negara
yang tidak memiliki wibawa ? Karena tidak memiliki wibawa, dengan beraninya
negara lain seperti Malaysia mengambil budaya milik negara kita. Jika tidak,
marilah kita kembalikan wibawa negara kita di mata dunia. Kita kembalikan jati
diri bangsa kita. Kita terapkan kembali nilai-nilai luhur yang dapat
melestarikan budaya bangsa. Sebagai anak-anak bangsa yang belum memiliki
pengaruh besar terhadap negara, kita dapat memperbaiki mulai dari hal terkecil
sekalipun. Kita dapat belajar menumbuhkan kembali rasa nasionalisme dengan
belajar yang giat agar kelak dapat berguna untuk pembangunan negara lebih baik.
Kita juga dapat menerapkan nilai-nilai luhur dalam perilaku kita sehari-hari
seperti kemanusiaan dan sopan santun. Kita dekatkan diri kepada Tuhan agar ilmu
yang kita peroleh dapat digunakan secara terkendali untuk hal-hal yang berguna.
Dengan memiliki disiplin ilmu, niscaya kita sebagai anak-anak generasi muda
bangsa dapat memperbaiki dan mengembalikan jati diri bangsa yang sempat hilang.
Mulailah memperbaiki dari diri kita sendiri, jika diri kita sudah baik maka
kita dapat memberi pengaruh baik tersebut kepada orang lain, bangsa dan dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar